MaHe Update

Penulis Ngehe

 
Minggu, 06 Juni 2021

Menjahit Air Mata

Aku pernah mengeja rintik-rintik sendu di antara jahitan pilu. Menapaki impian pada setiap jeda yang diberi waktu untuk sebuah harap yang dibungkus rindu. Rindu yang ketika waktu semakin jauh berpijak, ia menjadi candu.


***


“Tahun depan aku mau libur kerja aja deh.“ Aku duduk sembari menatap lalu lalang kendaraan di malam kemenangan ini. “Iya, aku juga. Rasanya capek banget. Aku juga pengen menikmati indahnya bulan Ramadan.“ Ratih menimpali perkataanku. Kami pun kembali menikmati malam yang semakin larut. Takbir menggema di sepanjang jalan menuju alun-alun kota. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa membawa obor yang menyala sembari melantunkan takbir kemenangan bulan Ramadan. “Alina! Cepat isi termosnya, udah mau habis ini.“ Suara Bu Tantri menghentikkan keasyikanku melihat gemerlap malam takbir. Satu persatu orang mulai berdatangan. “Bu, baksonya tiga, mie ayam satu, es jeruk empat ya!“ Setelah seorang wanita paruh baya mengatakan itu, Ratih ikut bangkit dari duduknya.


***


Tuhan begitu baik dengan mengabulkan doa, meskipun dengan cara yang berbeda dan menaburkan sedikit luka.


***


“Kak, mau beli coklatnya?“ Seorang anak dengan baju lusuh menghampiriku yang duduk di halte bis. Ia nampak lelah dengan terik mentari yang menyengat. Aku pun mengangguk dan memberikan sisa uang sakuku untuk membayar coklatnya. Memang ini sudah bebrapa bulan sejak aku   bekerja kala itu, aku mulai memasuki masa abu-abu. Masa yang kata orang itu sangat indah dan berkesan. Aku sendiri tak tahu, apakah itu benar atau hanya omongan belaka. “Orang tuamu kemana Dek, kok sendirian? Bahaya lho!“ tanyaku.


“Mereka udah gak ada Kak!“ Anak itu masih bisa tersenyum dan kembali menantang mentari. Sejenak benakku berkelana dan membayangkan apa jadinya aku tanpa ibuku. Kepergian ayah karna perceraian tiga tahun lalu saja sudah membuatku terpukul. Bagaimana jika tiba saatnya aku sendirian?


***


“Masih sisa gak uangmu Alina?“ Ibu menyambutku dengan pertanyaan yang sama setiap harinya. Hal itu tentu membuatku bosan. Entah mengapa ibu selalu ingin aku menabung padahal saat ini pakaian hasil jahitan ibu sedang laris. “Enggak Bu,“ jawabku jujur.


“Lho ibu kan sudah bilang!“ Setelahnya aku harus duduk begitu lama di ruang makan hanya untuk mendengarkan ocehan ibu.


“Iya Bu, besok aku akan irit dan menabung.“ Setiap percakapan kuakhiri dengan kalimat itu hanya untuk melegakan ibu. Setidaknya telingaku tidak perlu panas karena ocehan ibu. “Besok ibu ajari menjahit!“ Oh, ternyata bukan kalimatku yang mengakhiri percakapan kali ini, melainkan kalimat ibu yang tidak bisa dibantah lagi.


***


“Kenapa sih Bu aku harus bisa menjahit?“ Aku terus menggerutu di sepanjang gerak tanganku. Aku memang sangat tidak suka menjahit sebab dulu tanganku pernah terluka karena jarum jahit. Namun, ibu tetap memaksaku untuk belajar menjahit. “Sekarang kamu Ibu kasih tugas ya, jahit kain ini terserah mau kamu bentuk apa! Ibu mau ke warung dulu.“ Ibu pun pergi dengan menenteng tas belanja.  Lantas, tak ada ide dalam benakku. Hanya ada suatu hal yang berkelana di otakku saat menatap kain putih di tanganku ini. “Aku tahu mau buat apa,“ gumamku sembari tersenyum.


***


Satu minggu setelahnya, aku masih sama. Membeli banyak makanan di kantin sekolah dan jarang menyisakan uang saku. Berkali-kali ibu mengingatkanku, namun aku tak peduli. “Kenapa kamu tidak menuruti kata ibu?“ Ibu naik pitam. Wajahnya memerah dan melemparkan kain hasil jahitanku minggu lalu.


“Lihat apa yang bisa kamu jahit? Cuman kain yang dijahit pinggir! Benar-benar tidak berguna! Tidak mau menabung dan tidak bisa menjahit.“


“Itu berguna ibu, itu bendera!“ kilahku menahan amarah.


“Bendera kau bilang! Sudah berani melawan ibu ya! Bendera apa yang warnanya putih, coba ibu tanya?“


Aku memutuskan diam. Memang aku hanya bisa membuat itu, sebuah kain yang dijahit pinggir, mirip sebuah bendera yang biasa orang gunakan untuk mengabarkan kematian. “Salah sendiri ibu memberiku warna putih, bayanganku hanya itu,“ gumamku dan ibu kembali melirik ke arahku.


Aku hanya ingin menikmati ketika kami memiliki sedikit uang lebih. Aku juga tidak berniat menjadi penjahit, mungkin kalau iya aku mau jadi penjahit bendera saja biar mudah. Hingga sampailah pada saat itu, ketika Tuhan megabulkan doaku tahun lalu.


“Alina, cepat pulang!“ Ratih tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa ketika aku duduk di halte bus sepulang sekolah.


***


Halaman rumah sudah sesak dengan beberapa tetangga. Bergegas aku masuk ke dalam rumah. Jantungku sudah berdetak cepat, takut jika apa yang kupikirkan benar-benar terjadi. Baru dua langkah aku menapaki halaman rumah, suara sirine ambulan kudengar begitu pilu. Tiba-tiba sosok ibu yang terbaring lemah dibawa keluar rumah menuju mobil ambulan itu. “Ibu!“ Hanya ada tangis yang menggambarkan lukaku saat ini. Lantas, setelah itu, Tuhan benar-benar mengabulkan doaku satu tahun lalu. Aku tak akan bekerja di sela-sela liburan Ramadan dan lebaran, sebab aku harus menjaga ibu.


Bulan pun berganti, ibu pulang di bulan Kemerdekaan. Waktu ketika semua orang memasang bendera merah putih di depan rumah mereka. Hal itu membuatku teringat dengan ucapanku dulu jika ingin menjahit bendera saja. Ibu memang masih sakit, namun aku membawanya pulang karena uang tabungan kami sudah habis. Sekejap aku teringat pesan ibu untuk menabung, mungkin ini maksudnya.


Kain ibu sudah habis, tinggal beberapa kain berwarna putih di rumahku. Aku yang tak lagi memiliki daya untuk tersenyum mencoba kembali menjahit. Namun, lagi dan lagi aku ingin menjahit bendera. Aku tak mengerti mengapa aku menghabiskan hari hanya untuk membuat bendera. Aku hanya ingin menenangkan diri.


***


Beberapa hari kemudian, tibalah hari kemerdekaan. Rumah-rumah semakin ramai dengan bendera merah putih dan warna-warni. Sedangkan rumahku masih suram, prestasiku semakin tertinggal. “Ibu!“ Aku melihat ibu duduk di samping mesin jahit. Di tangannya terdapat kain putih yang kusebut bendera putih. Ia menangis dan membuat bendera itu basah. Aku yang tak kuasa menahan rasa tangis, memeluk ibu yang kini rambut putihnya yang biasa memenuhi kepalanya sudah hilang. Lenyap bersama penyakit yang menggrogoti tubuh ringkih ibu.


“Kamu benar Alina, jahitanmu ini memang berguna. Jahitanmu juga sangat bagus.“ Ibu memeluk bendera itu sembari menatap senja di Hari Kemerdekaan.


Untuk pertama kalinya ibu memuji jahitanku meskipun dengan air mata yang berderai. Setelah itu ucapanku dan ibu memang menjadi nyata. Rumahku terhias bendera seperti rumah-rumah tetangga. Namun, benderaku tak berwarna cerah, ia putih dan jahitanku menyatu dengan air mata duka.


By, Renny Wulandari


Chat MinHe